Skip to main content

Sticky Advertisement

728

Ad Code

728
728

Dalih “Orang Dalam”



Jayadi,ST


Kita patut bersyukur. Data pengangguran terbuka di Kota Balikpapan hingga penghujung 2022 kian mengecil. Angka Tingkat Pengangguran Terbuka sebesar 6,90 persen sebagaimana dilansir dalam laporan BPS Kota Balikpapan, menunjukkan serapan tenaga kerja terus membaik.  Hal ini tentu tidak lepas dari peningkatan eskalasi proyek pengembangan Kilang Pertamina Balikpapan (RDMP Balikpapan) serta geliat pembangunan Ibukota Negara (IKN). Disamping itu, memang secara umum perekonomian Kaltim terus menunjukkan tren positif pasca pandemi.

 Meski demikian, persoalan ketenagakerjaan khususnya problem pengangguran masih akan jadi perhatian. Pasalnya, di tengah persaingan ketat dunia kerja, banyak calon pekerja yang urung terkaryakan meski informasi pembukaan kesempatan marak diinformasikan perusahaan-perusahaan. Hal ini tentu berpotensi memunculkan rasa frustrasi tersendiri khususnya bagi para pencari kerja (pencaker) yang tak kunjung mendapatkan pekerjaan.

Analisa sumir lantas bermunculan di kanal-kanal perbincangan hingga media sosial. Mulai dari ceruk kesempatan yang diambil pendatang hingga tidak jarang mereka yang belum terkaryakan menyalahkan keberadaan "orang dalam”. “Orang dalam” di sini merujuk pada individu yang sudah dipekerjakan di suatu perusahaan dan dianggap mampu membantu orang lain untuk dapat diterima bekerja di perusahaan yang sama tempatnya bekerja.

Kecenderungan menyalahkan keberadaan “orang dalam” oleh pencaker sebetulnya menunjukkan adanya ketakutan berkompetisi dan menganggap bahwa koneksi menjadi satu-satunya faktor penentu dalam mencari kerja. Mereka mengabaikan fakta bahwa perusahaan-perusahaan saat ini cenderung mencari karyawan yang berkualitas dan mampu berkontribusi secara maksimal dalam pekerjaannya. Kesalahan dalam mengidentifikasi kegagalan mengakibatkan perbaikan kualitas diri sering kali terabaikan. Padahal, mekanisme rekrutmen pekerja di perusahaan-perusahaan hari ini sudah mengarah pada sistem meritokrasi, di mana kualitas dan kompetensi calon pekerja menjadi faktor utama dalam proses seleksi.

Fenomena ini juga dapat mengindikasikan kepribadian inferior yang dimiliki oleh sebagian pencaker. Kepribadian inferior merujuk pada rasa kurang percaya diri, merasa rendah diri, dan merasa tidak mampu bersaing dengan orang lain. Orang yang memiliki kepribadian inferior cenderung menyerahkan kegagalan mereka pada faktor eksternal, seperti keberadaan orang dalam, dan mengabaikan faktor internal, seperti kekurangan kemampuan atau pengalaman. Mereka juga enggan mengakui kelemahan diri dan malas untuk memperbaiki kualitas diri karena merasa bahwa mereka tidak mampu bersaing dengan orang lain.

Jika calon pekerja ingin meningkatkan peluang mereka dalam mencari pekerjaan, mereka perlu berhenti menyalahkan keberadaan orang dalam serta faktor eksternal lain dan mulai fokus berbenah. Mereka harus berani mengakui kelemahan diri dan berusaha memperbaikinya dengan mengambil peluang untuk belajar dan mengembangkan kemampuan mereka. Peluang tersebut dapat diperoleh dari berbagai cara, seperti mengikuti pelatihan atau kursus, membaca buku-buku terkait dengan bidang yang diinginkan, atau mengikuti program magang.

Memang calon pekerja juga perlu membangun jaringan dan meningkatkan keterampilan interpersonal mereka. Sebab meskipun mekanisme rekrutmen pekerja saat ini mengarah pada sistem meritokrasi, namun koneksi atau jaringan juga tetap memegang peranan penting dalam dunia kerja. Koneksi dapat membantu dalam mendapatkan informasi tentang lowongan pekerjaan atau memberikan referensi yang dapat meningkatkan peluang calon pekerja untuk diterima di suatu perusahaan.

Namun yang perlu digarisbawahi di sini, koneksi atau jaringan tidak berarti apa-apa tanpa adanya kualitas dan kompetensi yang dibutuhkan perusahaan. Dengan demikian, calon pekerja yang ingin berhasil dalam mencari pekerjaan harus menggabungkan antara peningkatan kualitas diri dan membangun jaringan atau koneksi yang baik. Dengan memiliki kualitas yang baik, mereka dapat menunjukkan bahwa mereka layak untuk diterima bekerja di suatu perusahaan. Sedangkan dengan membangun koneksi mereka dapat memperoleh informasi tentang lowongan pekerjaan atau referensi yang dapat meningkatkan peluang mereka untuk diterima di perusahaan yang diinginkan.

Mengatasi masalah kecenderungan menyalahkan keberadaan “orang dalam” sebagai simtom kepribadian inferior diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dari calon pekerja. Mereka harus memiliki tekad yang kuat untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan mereka. Dengan begitu, mereka akan dapat bersaing secara sehat dalam mencari pekerjaan dan memiliki peluang yang lebih besar untuk berkarya.

Kemampuan mengatasi inferioritas juga dapat melecut respon positif atas berbagai persoalan. Misalnya saja jika hari ini banyak muncul keluhan mengenai kedatangan banyak pendatang di Kota Balikpapan, maka respon positif yang mungkin muncul adalah semangat kewirausahaan. Peningkatan jumlah pendatang toh tidak melulu berakibat berkurangnya kesempatan kerja bagi penduduk setempat. Keberadaan pendatang juga berarti peluang usaha yang lebih besar. Pendatang membutuhkan berbagai kebutuhan sehari-hari seperti makanan, tempat tinggal, dan barang kebutuhan lainnya. 

Oleh karena itu, adanya peningkatan jumlah pendatang dapat mendorong munculnya wirausaha baru yang menyediakan berbagai kebutuhan tersebut. Respon positif ini dapat membantu meningkatkan perekonomian dan menciptakan lapangan kerja baru bagi penduduk setempat. Selain itu, munculnya persaingan di antara wirausaha juga dapat mendorong peningkatan kualitas produk dan pelayanan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing dan memperkuat perekonomian Kota Balikpapan secara keseluruhan{}

*Penulis adalah penikmat Kajian Sosiologi Kota

 

Posting Komentar

0 Komentar

728